April 2010

Sektor Pertambangan Kabupaten Sarolangun

Potensi pertambangan di Kabupaten Sarolangun disusun berdasarkan pengamatan di lapangan dan pengumpulan data yang diperoleh adalah :

a) Bahan Galian Strategis

a). Minyak Bumi

ü Kec. Sarolangun, terdapat lokasi Meruap, dikelola oleh PT. BWP Meruap tahap eksploitasi dengan produksi per hari mencapai 2000-3000 barrel/hari

Sektor Pariwisata Kabupaten Sarolangun

Kabupaten Sarolangun memiliki obyek wisata yang umumnya adalah obyek wisata alam, selain itu juga wisata ziarah, wisata minat khusus, wisata budaya dan wisata sejarah. Sebahagian Kecamatan dalam Kabupaten Sarolangun terdapat obyek wisata yang menunggu pembenahan, diantara nya seperti pada table berikut ini :

Tabel obyek wisata Kabupaten Sarolangun

Sosial Budaya Kabupaten Sarolangun

Kebudayaan

Kabupaten Sarolangun dihuni oleh 12 buah suku/etnis yang hidup menetapsecara permanen. Di Sarolangun terdapat 6 (enam) bahasa lokal yang menjadi pengantar komunikasi antar anggota masyarakat dalam kehidupan sehari‑ hari.
Sebagai ciri masyarakat berbudaya yang sudah berkembang cukup lama, di Kabupaten Sarolangun juga terdapat situs bersejarah sebanyak 15 (lima belas) buah sebagai salah satu bentuk warisan sejarah masyarakat Sarolangun.

Pemuda dan Olahraga

Lambang Daerah dan Artinya

Logo Kabupaten Sarolangun

Bentuk Lambang Persegi Lima: Melambangkan kesetiaan Kabupaten Sarolangun pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Dasar Negara “ Pancasila ”.

Sekilas Sejarah Kabupaten Sarolangun

Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia dicetuskan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, kota Sarolangun yang pernah menjadi basis patrol Belanda menjadi bagian dari Kabupaten Jambi ilir (Timur) dengan pusat pemerintahannya berkedudukan di Jambi dengan Bupatinya pada masa itu adalah M. Kamil. Pada tahun 1950 sampai Jambi menjadi Propinsi tahun 1957, Sarolangun menjadi kewedanaan bersama kota-kota lainnya yaitu Bangko, Muaro Bungo, dan Muaro Tebo yang tergabung dalam Kabupaten Merangin dengan Ibukotanya semula berkedudukan di Jambi yang selanjutnya berpindah ke Sungai Emas Bangko. Sejak saat itu, Kota Sarolangun menjadi Kewedanaan selama kurang lebih 20 tahun. Selanjutnya dimulai dari tahun 1960 berdasarkan hasil siding pleno DPRD Kabupaten Merangin dipecah menjadi dua Kebupaten, yaitu Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Bungo Tebo. Maka sejak saat itu kewedanaan Sarolangun secara resmi menjadi bagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko dengan ibukotanya Bangko. Melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 secara yuridis formal Kabupaten Sarolangun resmi terbentuk.

Topografi dan Iklim Kabupaten Sarolangun

Keadaan topografi wilayah Kabupaten Sarolangun bervariasi, mulai dari datar, bergelombang sampai berbukit-bukit. Wilayah bagian Utara umumnya datar hingga bergelombang, wilayah bagian timur datar bergelombang dan wilayah bagian selatan berbukit-bukit, sedangkan wilayah bagian barat datar bergelombang Topografi wilayah Kabupaten Sarolangun terdiri dari dataran (0-2%) seluas 167.891 Ha, bergelombang (3-15%) seluas 272.412 Ha, Curam (16-40%) seluas 78.090 Ha dan sangat curam (>40%) seluas 99.090 Ha.
Keadaan Iklim

Wilayah Administrasi Kabupaten Sarolangun

Secara administrasi, Kabupaten Sarolangun terbagi menjadi 10 Kecamatan dengan luas masing-masing dapat dilihat dalam tabel 1 berikut :

Tabel 1 Luas Wilayah Kabupaten Sarolangun Berdasarkan Kecamatan Tahun 2007-2008

Letak Geografis Kabupaten Sarolangun

Kabupaten Sarolangun dengan posisi wilayah terletak antara 1020 03’ 39” BT sampai 1030 13’ 17” BT dan 010 53’ 39” LS sampai dengan 020 41’ 02” dengan luas wilayah lebih kurang 617.400 Ha atau 6.14 Km2 yang terletak didaerah dataran rendah dengan ketinggian antara 10 sampai dengan 1000 meter dari permukaan laut (dpl), dengan pembagian wilayah sebagai berikut :